Tampilkan postingan dengan label Sehari-hari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sehari-hari. Tampilkan semua postingan

Tulisan Pertama Umar

namaku umar. adikku salman.  bundaku diana.  
umurku 8.  hobiku membaca.

----------------------
Di atas itu adalah tulisan Umar yang pertama di blog ini. Bunda ingin tahu dia akan menulis apa di sini. Karena Umar lebih suka menggambar, disuruh menulis jadinya malah bingung. Hehehehe...

Nanti dicoba lagi. :)

Berikut ini artikel dari SINI tentang manfaat anak belajar di dapur. Baca yuk!

----------------

Usia balita 4-5 tahun. 
Anak usia ini sudah mulai memahami sebab akibat. Mintalah dia berhati-hati saat menggunakan peralatan dapur. Kenalkan peralatan apa saja yang aman dipakainya dan berikan alasannya.  Stimulasi yang bisa diberikan lebih mengarah pada kemampuan kognitif, psikomotorik, dan bahasa. Beberapa tugas di dapur yang bisa dilakukannya adalah:
  • Asah motorik halusnya dengan mendekorasi makananan. Misalnya, mengoleskan mentega atau selai atau menaburkan cokelat atau keju di atas roti atau kue.  
  • Lambungkan kreatifitas dan imajinasinya dengan menghias kue atau makanan lainnya.
  • Latih logika berpikir anak tentang tahapan suatu proses hasil karya dengan mengajaknya membuat adonan kue hingga kue siap disantap.
  • Tambah pengetahuannya tentang makanan sehat dengan memintanya menyebutkan setiap bahan makanan yang digunakan. Hal ini sekaligus akan melatih daya ingatnya.
  • Kenalkan tekstur bahan makanan dengan meminta anak mencampur air dengan terigu dan telur hingga menggulung  adonan. Jangan lupa  ajarkan dia untuk selalu mencuci tangan lebih dulu untuk mengajarkannya tentang kebersihan dan kesehatan dalam memasak.
  • Stimulasi indera perasanya dengan mencoba mencicipi bahan makanan baru.
  • Ajarkan anak kebersihan dengan mencuci buah dan sayur.  Lalu minta dia memisahkan buah dan sayur ke dalam dua wadah yang berbeda. Ini akan melatihnya mengenal buah dan sayur sekaligus belajar mengelompokkan suatu benda.

Anak usia 6-10 tahun. 
Tangan anak sudah bisa lebih terkoordinasi. Keseimbangannya juga sudah lebih baik.  Jadi Anda bisa memberikannya tugas-tugas memasak yang lebih membutuhkan ketrampilan tangan.  Anak juga sudah bisa membaca dan memahami angka. Beberapa tugas di dapur yang bisa dilakukannya adalah:
  • Anak sudah bisa menggunakan pisau kecil dengan tingkat ketajaman yang rendah, tentunya tetap dalam pengawasan Anda. Ajari dia memotong atau mengupas bahan makanan yang mudah.
  • Asah motorik halusnya dengan memetik sayuran.
  • Asah kecerdasan visualnya lewat menghias suatu makanan seperti kue. Ini juga akan membuatnya lebih mengenal warna, arah, ruang dan bentuk.
  • Asah ketrampilannya membaca dan berhitung dengan mengajaknya ikut membaca resep sederhana dan menimbang bahan-bahan makanan.
  • Kenalkan dia dengan berbagai bentuk lewat mencetak adonan kue.
  • Latih indera penciuman dan daya ingat lewat permainan mengenal bumbu-bumbu dapur. Caranya: ambil beberapa bumbu dapur , sebutkan namanya dan minta anak mencium baunya dan mengingat namanya. Setelah itu uji pengetahuan dan daya ingatnya dengan memintanya mengambilkan bumbu yang ingin Anda gunakan dalam memasak.
  • Kenalkan berbagai macam cara mengolah bahan makanan. Seperti bagaimana mengukus dan memanggang makanan dengan cara yang aman tentunya.
  • Ajarkan kebersihan memasak dengan mengumpulkan dan membuah sisa-sisa bahan makanan yang sudah tidak bisa digunakan.

Anak usia 11-15 tahun. 
Usia ini anak sudah mulai mandiri. Kecerdasan motorik maupun visualnya juga lebih berkembang. Anda bisa memberinya tugas  seperti yang orang dewasa lakukan, namun tetap sesuaikan dengan kemampuanya dan perhatikan keamanannya. Beberapa tugas di dapur yang bisa dilakukannya adalah:
  • Pilihkan menu yang lebih banyak membutuhkan bahan makanan dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.
  • Anak bisa diajarkan untuk mengolah makanan dengan cara menggoreng. Namun tetap di bawah pengawasan Anda.
  • Anak sudah bisa mengiris bawang, memarut keju,  atau melumatkan kentang. Bisa juga ajarkan dia menggunakan blender.
  • Beri dia tantangan membuat hidangan sederhana sendiri dan minta menulis resepnya serta memberi nama hidangan tersebut. Atau ajak dia beli buku resep simple dan ajak dia memprakterkannya. Supaya lebih semangat dalam memasak, Anda bisa mengajaknya belanja peralatan dapurnya sendiri.
  • Dorong kreatifitasnya dengan tantangan mengolah sisa bahan makanan yang masih bisa digunakan dan selalu libatkan anak ketika memilih bahan makanan.
  • Ajari untuk membereskan peralatan dapur setelah memasak termasuk membuang sampah dan mencuci piring.  
  • Untuk meningkatkan rasa percaya dirinya, buatkan playdate di mana anak bisa mengundah teman-temanya untuk mencicipin hidangan buatannya sendiri. Dia pun akan sangat bangga!

Mengapa Harus Mengantri?

Seorang guru di Australia pernah berkata:

“Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

“Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?” Kerena yang terjadi di negara kita justru sebaliknya.

Inilah jawabannya:

Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.
Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.
Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.
”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”

”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;”

Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.
Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..
Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.
Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.
Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain.

dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.

Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kids Zania di Jakarta.

Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.

Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”
Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.
Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.
Ada orang tua yang malah marah2 karena di tegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.
dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga?

Ah sayang sekali ya.... padahal disana juga banyak pengunjung orang Asing entah apa yang ada di kepala mereka melihat kejadian semacam ini?

Ah sayang sekali jika orang tua, guru, dan Kementrian Pendidikan kita masih saja meributkan anak muridnya tentang Ca Lis Tung (Baca Tulis Hitung), Les Matematika dan sejenisnya. Padahal negara maju saja sudah berpikiran bahwa mengajarkan MORAL pada anak jauh lebih penting dari pada hanya sekedar mengajarkan anak pandai berhitung.

Ah sayang sekali ya... Mungkin itu yang menyebabkan negeri ini semakin jauh saja dari praktek-praktek hidup yang beretika dan bermoral?

Ah sayang sekali ya... seperti apa kelak anak2 yang suka menyerobot antrian sejak kecil ini jika mereka kelak jadi pemimpin di negeri ini?

Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia. Mari kita ajari generasi muda kita untuk mengantri, untuk Indonesia yang lebih baik... .

================
Sumber tulisan: di sini

If You ...

If you don't want your children to lie to you don't punish them for telling the truth.
If you don't want your children to steal, don't steal from them..
If you don't want your children to hate show them unconditional love.
If you don't want your children to hurt others don't show them how to do it..
If you want your children to be respectful show them what if feels like to be respected.
If you want your children to be compassionate show them how to be compassionate.
If you want your children to learn self-control take control of yourself.
If you want your children to use their words, show them that you can use yours.
If you want your children to be kind show them what kindness looks like.
If you want your children to be good people be a good person yourself.
If you want your children to learn let them play.
If you want your children to be healthy give them only healthy food.
If you want your children to enjoy their childhood, don't expect them to act like adults.
If you want your children to have self-esteem, don't belittle them
If children have known nothing but kindness love patience, understanding and forgiveness, they will grow to be kind loving patient understanding and forgiving adults 

Inshallah



repost from Facebook.

Jadilah Dirimu Sendiri

Bunda baru baca sebuah postingan keren hari ini. Mencerahkan :)

"Pertama, saya tidak percaya pada ijazah. It’s just a piece of paper yang menyatakan bhw seseorang telah melewatkan (atau mungkin menyia-nyiakan) sekian tahun waktunya utk belajar bidang tertentu. Jika ia berprestasi di sekolah maka itu juga tidak berarti bhw ia akan bisa berprestasi dalam kehidupan. Apa yg dipelajarinya di sekolah bisa-bisa malah menghambatnya dalam berprestasi di dunia nyata." ~ Satria Dharma. 



Bagus, hingga Bunda juga repost di facebook.

Intinya dari sudut pandang Bunda adalah: Bunda membebaskan Umar dan Salman berekspresi dan menentukan mau jadi apa dan mau belajar dengan gaya apa. Terserah. Tugas Bunda adalah mengawasi dan mengarahkan tetap berada di jalur yang benar. Tetap harus mengikuti ujian persamaan guna mengukur kemampuan diri, harus berkompetisi untuk mengetahui bahwa persaingan dunia nyata itu lebih keras ketimbang hanya tes akademik semata.

Bunda juga membebaskan seandainya Umar dan Salman lebih memilih jalur akademis untuk pendidikannya. Tetap harus bertanggungjawab dengan pilihannya. :)

Biar bagaimana pun, kedua mujahid kecil Bunda haruslah tangguh dan terpelajar ;)


Pribadi yang Berbeda

Mujahid bunda tersayang, Abang Umar, usianya menjelang enam tahun dan belum bisa membaca. Bukan tak bisa. Tapi memang belum ada kemauan untuk membaca. Dia lebih suka berhitung dan menulis. Bunda tak bisa memaksa. Jika bunda paksa, tentu tak bagus hasilnya untuk perkembangan emosionalnya.

Umar terlihat selalu stres bila bunda ajak untuk membaca. Dia mulai melakukan negosiasi, "Gimana kalo tambah-tambahan aja, Bun?" atau "Nulis aja deh, Bun. Ya? Tapi lima baris, jangan banyak-banyak." atau "Bunda, aku gak mau baca. Aku maunya main pazel (puzzle)." Kalau sudah begini, kadang susah juga mau jawab apa lagi.

Ditambah, Umar sudah 'keracunan' film kartun di televisi. Ada saja rayuan mautnya. "Bun, Shaun The Sheep nih!" atau "Bun, udah jam lima nih. Kartun dong!" atau "Bunda sayang, bunda cantik, nonton dong. Nyalain ya tivinya?"  Padahal jatah nonton hanya tiga jam setiap hari, itu pun sudah maksimal. Tetapi ada saja rayuannya. "Tunggu, Bun! Tuh ada lagi kartunnya." =.='

Dan Umar semakin sensitif. Juga pemberontak. Bunda memahaminya. Bunda mengerti kenapa Umar menjadi seperti itu. Saat ini, Bunda tak bisa berbuat banyak kecuali memeluknya dan meminta maaf karena membuat hatinya terluka.

Sebenarnya bunda tak ingin memaksa Umar belajar membaca hanya karena melihat teman sebayanya sudah bisa. Bunda tahu bahwa hal itu malah bisa membuat Umar semakin minder dan tertekan. Jadi Bunda sedang berusaha untuk belajar memahami Umar yang mulai memiliki pendapatnya sendiri. Umar sudah besar :)

Salman apa kabar? Wow, dia juga sudah pandai protes bila keinginannya tidak langsung dipenuhi. Salman lebih mandiri. Makan maunya sendiri. 'Membaca' buku favoritnya pun sendiri. Main juga gak mau ditemenin. Ah, memang berbeda karakter ya?

Salman sangat sensitif. Dan dia bisa langsung memukul orang yang dianggapnya telah 'menyakitinya'. Padahal tak ada yang mengajarkannya seperti itu. Duh, Bunda sepertinya lengah nih! >_<

Mereka berdua jika sudah berantem, ya benar-benar menggunakan seluruh tenaga. Bunda sampai pusing melihat mereka kalau sudah saling sikut, tonjok, pukul, tendang. Masin-masing ingin menunjukkan kekuatannya. Waow, Bunda yang panik. "Umar, badan dek Salman lebih kecil dari kamu!" atau "Salman, jauh-jauh dari Abang, hati-hati!" Dan berakhir jika salah satu sudah ada yang menangis....

Oow.... dua permata hati Bunda benar-benar sudah besar....

Kami Sudah Besar

Hai hai hai para om dan tante.... Adik dan kakak semuanya.... Apa kabar? Wah, sudah lama ya kita gak ketemu ^_^ Umar dan Salman juga rindu ingin menyapa semua yang sering mampir ke sini...

Inilah kami sekarang. Umar sudah 5,5 tahun dan Salman 2,5 tahun. Kamilah perusuh di rumah yang membuat bunda semakin kewalahan... Hehehehe... Rebutan mainan? Pasti! Main air di kamar mandi? Jangan tanya! Berantem? Eeeerrrrr......  *nyengir tanpa rasa bersalah*

Sekarang bunda juga semakin sibuk, jadi maklum ya kalau rumah kami ini jarang dibersihkan... Selalu berantakan! Terima kasih lho semuanya yang masih mau mampir ke sini... Ditunggu ya undangan kalau kakak atau adik semuanya ulang tahun... *lho?*

Bubyeeeee.....

Ah, sepertinya sudah lama bunda tidak mampir melihat catatan harian mujahid kecil bunda ya? Maafkanlah...

Sekarang, memang bunda disibukkan dengan dua orang mujahid yang sehat, lucu, pintar, shalih, dan tentu saja ganteng... Hehehe... *emak narsis*

Si Abang, namanya tentu sudah pada tahu ya? Umar Rizqi Musthafa ;) Nah, adiknya yang lahir pada tanggal 22 Januari 2009 bernama Salman Rizqi Hasan. Apakah kalian sudah berkenalan? Bunda janji, insya Allah ya nanti bunda bebenah blog ini dan mulai rajin lagi bercerita tentang mereka berdua ;)

Nanti juga foto abang Umar diganti jadi foto berdua Salman ;)

Sampai jumpaaaaaaaa....

Selamat datang di rumah, dek Salman... Tapi abang cemburu soalnya bunda dan bapak lebih merhatiin kamu sekarang..huhuhuhu...dikit2 abang dimarahin.... kan aku sayang kamu juga....

Cepet gede ya biar kita bisa main bareng.... ^_^

Sun sayang buat dek Salman....

Pergi Ke Kemayoran


Hari Ahad, 9 November 2008 Umar diajak bunda dan bapak pergi ke Kemayoran. Ada acara "Nihon No Matsuri" (Festival Kebudayaan Jepang) yang kata bunda sih rame... Umar mau ajah diajak.. Kan jalan-jalan... Hehehehe....Eits, sarapan roti dulu yaaaa...

Berangkat naik KRL ke kantor bunda,karena rencananya mau berangkat bareng2 dengan temen2 bunda.... Tapi batal... Umar kesel dan suntuk... Laper pula! Akhirnya kita pergi ajah sendiri ke JIEXPO... Haduuuuuuuuhhhh, belum apa-apa Umar sudah lihat ribuan orang ngantri macem2... Tambah pusing!!!!

Ketemu sama om Luthan (senior bunda waktu kuliah dulu di UI). Dikasih kipas bagus. Terima kasih om... Umar dibilang 'kawaii' alias lucu sama om... ^_^ Trus Umar makan siang pake nasi gudeg. Minum teh Tong Tji sampe 2 gelas... Trus leyeh-leyeh di luar ruang pameran... Umar asli deh pusing liatin orang banyak begitu. Apalagi musik di panggung berisik sekali...

Umar beneran deh gak bisa menikmati acaranya.... Sebel!!! Kasian deh liat bunda juga capek...
Mau liat Doraemon ajah gagal. Mau liat Shinkansen 3D, antriannya bikin sebel.... Haduh, bundaaaaaaa..... Lain kali ajak Umar hari biasa ajah ya jangan wiken....

Udah ah, Umar capek... Mau bobo lagi....

Lebaran Kali Ini...

Aku sedih, soalnya aku kelelahan bermain dan juga selama 5 hari ditemani oleh demam,batuk,pilek... Plus pegal2...

Awalnya, aku diajak bapak ke kantor bunda di Sudirman tanggal 25 September 2008 dilanjutkan ke rumah tante Emmy di Jatiwaringin. Sungguh melelahkan dan jalanan berdebu. Belum lagi macetnya. Aku hanya diam saja selama di jalan.

Trus tanggal 27 September 2008 ke rumah nenek di Blok S. Aku pastinya main2 dengan semua sodaraku dong... Capke lagi deh. Pas pulang, bunda lupa memakaikan jaketku. Besoknya, aku mulai batuk pilek...

Tanggal 29 September 2008, aku mulai demam. Bunda sibuk bikinin aku ramuan andalannya:jahe + kencur + biang kunyit dicampur gula batu... 2 gelas, pula! Trus aku juga minum madu+habatussauda. Aku langsung memuntahkan lendir ayng bikin tenggorokanku gatal.

Hari lebaran pertama, aku masih demam. Tapi main2 di rumah nenek sih wajib... ^_^ Angpaoku juga banyak lho....Alhamdulillah, bisa beli celana baru....Aku kan udah gedeee...

Hari lebaran kedua, bapak beliin air kelapa ijo buatku. Malamnya aku muntah2 terus. Aku bener2 lemesssss.... Tapi aku bisa tidur nyenyak! Oh ya, kata bunda, hari ini persis 10 tahun nien (mamanya bunda) berpulang... Al-fatihah buat nien Okkie...

Besoknya, tanggal 3 Oktober 2008, aku sudah tidak demam lagi.

Tanggal 4 Oktober 2008, aku diajak bunda ke Galaxy Bekasi dan juga ke Jatiwaringin. Main2 seharian dan mandi sampai 3x!!! Geraaaaaaaaahhhh.....

Tanggal 5 Oktober 2008, hari terakhir bunda libur. AKu mau manja2 ah seharian.. Trus baru berasa deh kakiku pegel2..Huhuhuhuuu...Minta pijitin bunda sampai tertidurrrr....

Untuk semua temanku:

Taqabballahu minna wa minkum,taqabbal yaa Kariim.
Minal aidin wal faidzin....

Begini nih, nasib emaknye kerja tapi bapak yang stay tune di rumah...

Maklum, para bapak tidak ditakdirkan repot di rumah berkubang detergen dan sabun colek... Meski beberapa ada yang biasa dengan bumbu dapur dan jadi koki terkenal seperti Chef Bara (halah, bunda kena sindrom Bara-mania, gara2 ketemu di MP Point 30 Agustus yang lalu!!!)...

Bapaknya Umar, saat ini 'terpaksa' berganti peran sementara dengan bunda karena saat ini giliran bunda yang berjibaku dengan kerjaan kantoran dan berlari-lari mengejar bis kota (ya elah, bun bahasanya!!!). Di rumah, bapaklah yang memasak nasi (dari kelembekan hingga sekarang masak nasi jadi andalan bapak...dooohhhh..), mencuci piring, mencuci pakaian, dan mengepel lantai... (yoooo, nyetrika tetep bunda, karena hasil setrikaan bapak gak pernah licin!Wakakakaka....). Dari gak bisa pasang diaper Umar hingga jadi ahli... Gitu deh!

Tetapi, bapak tetaplah seorang pria yang selalu merasa kewalahan dengan tugas rumah tangga. Beda ya sama para ibu yang meski anaknya lebih dari 5 orang, rumah bisa beres! Ini sih... Ngurus Umar seorang dan rumah satu biji... Seperti Umar ada 10 orang dan rumahnya 5 biji.... Hweh...

Pertanyaannya, kenapa bunda nulis beginian? Karena!!!!
Kemarin Umar mandi sore itu 6.30 malam, sodara-sodara!!!!!*gubraks!* Bunda baru tahu setelah hari ini bapak telepon ke kantor dan mengatakan badan Umar hangat. Haduh, mo marah deh sama bapak.... Alasan bapak,"Gak sempet mandiin Umar, bu. Beresin rumah ajah gak kelar-kelar." Wadoh, padahal berkali-kali bunda bilang ke bapak, gimanapun kondisi rumah, jadwal makan, mandi, dan tidur Umar gak bisa diganggu gugat! *tepok2 jidat* Pantas Uamr uring dan gak bisa tidur semalam....

Buru2 ajah bunda instruksikan bapak untuk beli susu cair Ultra tawar atau susu beruang. Itu andalan bunda kalau Umar hangat. Jadi, bye-bye doctor... Hehehehe...

Moga-moga ke depannya bapak lebih hati2 ah!

Laporan 17an...

Yah,bunda telat nih beritanya.. Basi deh! Yah, muhun maap juga deh, maklum sibuk....

Gak terlalu banyak yang mesti diceritain. Tanggal 17 subuh Umar ke rumah nenek di Kampung Sawah. Ikutan (sok2 ikutan, sebenernya karena Umar bukan 'penduduk' sana, cuman 'penyusup'. Hehehehe) lomba lari. Jelas ajah rusuh. Lecet2, baret2, kotor semua, dan capek. Dapet makan ayam goreng tepung dari panitia... Hihihihi, padahal gak ambil kupon. Rejeki mah gak kemana ya Nak?

Trus, Umar bobo siang sama bi Yuyun, sementara bunda dan bapak ke Cinere dulu ada perlu. Setelah Umar mandi sore dan bunda shalat Ashar, kita pulang ke Depok. Di sana udah ditunggu tasyakuran di rumah ua Eeng. Padahal Umar gak ikutan lomba RT (karena pergi ke Jakarta), tapi tetep dapet hadiah yang paling Umar suka.... Mobil2an 1 set!!!! Alhamdulillah... ^_^

Tapi malamnya, ohix... Bunda gak bisa tidur karena mesti menenangkan Umar yang histeris... Kebiasaan buruk deh... Kalau siang hari mainnya heboh, tengah malam pasti kesakitan karena pegal2.... Haduuuuuhhhh......

Tapi gak papa ya sayang... Bunda sayang kamu... Selamat menikmati mainan barumu... ^_^

Mulai Pintar Cerita....

Dengan gayanya yang sok gede, Umar selalu ngoceh soal tabrakan mobil atau motor di televisi.. Atau protes kalau aksi2 hewan2 liar di film dokumenter terpotong iklan (gak ada iklan gak ada pelem dokumenter kali, sayanggggg....) Atau nyerocos setelah bengong melihat pijaran lava gunung berapi...

Sekarang, jika sedang bermain, juga ngoceh... "Bunda, mobilnya tabakan(tabrakan-bunda)!" Dan semacamnya...

Makin pinter protes. Kalau dipanggil ade pasti gak mau. "Abang, bunda.... Abang Umal...Ya?" Bunda tepok2 jidat deh! Juga gak mau dipanggil "Umay". Pasti ngegerendeng (menggerutu pelan): "Hu uh, Umay..Umay! Nama aku kan Umal, bukan Umay!" Bunda tinggal ngikik sendiri ajah...

Permisi...

Dengan memengang benda apapun yang mirip gitar (maklum bunda belum bisa beli gitar2an), Umar pasang aksi dan mulai menyanyi gak jelas sampe ngotot alias urat2 lehernya pada keliatan...

Jreng...jreng..jreng..... "..................." Isi nyanyian yang gak jelas. Lalu menghampiri orang2 yang 'mendengarkan' nyanyiannya, dan menadahkan tangan. Setelah kita juga pura2 kasih ongkos (uang receh, versi Umar), dia tersenyum dan berujar, "Ma acih" dan melanjutkan nyanyian gak jelasnya...

Kalau sudah capek, langsung deh nyamperin bunda dan bilang, "Haus, bun!" Hehehehehe....

Abang! Bukan Kakak!

Bunda dan bapak suka berandai-andai, kalau Umar punya adik, kira2 Mujahid Kecil ini maunya dipanggil apa, ya? "Umar pinter, mau punya ade gak?" tanya bunda sambil memangku Umar.
"Mau!" jawabnya mantap.
"Laki atau perempuan?"
"Peyempuan!"
"Perempuan apa laki?"
"......." Umar berpikir sebelum menjawab, "Peyempuan!"
"Umar mau dipanggil apa? Kakak ya?"
"Gak mau!"
"Lho? Maunya apa?"
"Abang!"

Bunda dan bapak saling berpandangan. A-b-a-n-g?
"Kalau Aa mau gak?" kejar bunda lagi. Penasaran. Ternyata Umar menggeleng tegas. BUnda menghela nafas. Orang Betawi bukan, mau dipanggil abang... Umar kan campuran Madura-Sunda-Cina. Harusnya antara Mas, Cak, Aa, atau Kokoh.... *giliran bunda geli sendiri*

Ngomong2, kapan mau punya adik, Bang? Umar hanya nyengir nakal sambil peluk2 bunda. Iiiiihhhh....

3 Hari Bersama Bunda

Bukan 3 Hari Mencari Cinta, ya? Hehehe, itu sih basi! Tetapi bener deh Umar bahagia banget ada bunda 3 hari penuh di rumah. Sabtu, Ahad, dan Senin. SENIN???? Iya, bunda tewas dengan sukses di rumah karena sakit panas Senin tanggal 9 Juni kemarin. Jadilah Umar menemani dengan suka cita dan riang gembira... (Lah, bunda sakit kok hepi?)

Pokoknya, jarang2 deh bunda bisa 3x24 jam sama Umar dan itu lebih dari apapun...

Belajar Berbohong

Eits, bukan berarti bunda yang mengajarkan! No..no..no...

Tetapi ini merupakan tamparan keras buat bunda dan bapak untuk tidak lengah. Minggu lalu, sewaktu bunda pulang kerja, bapak memberikan laporan rutin (halah!)... Dan terjadilah percakapan berikut:

Bapak: "Bu, Umar tuh! Kayaknya diajarin bohon sama **** (tetangga)."

Bunda: "Lho? Kok bisa?"

Bapak: "Iya, tadi saya tanya, 'Umar udah makan?' dia jawab katanya udah. 'Pake apa?' dia jawab pake tahu. Tapi saya lihat perutnya kempes. Trus saya kasih dia makan pake telur dengan nasi sepiring penuh. Habis lho, bu! Saya kesel deh sama ****, kok ngajarin anak kita bohong sih? Nyaris saya mau marah sama Umar. Tapi dia gak salah. Yang salah si ****."

Bunda: "Bukan, pak. Yang salah ya kita! Kurang mengawasi Umar."

Bunda lalu mendekati Umar dan berbicara sepelan mungkin,"Sayang, lain kali kalo bunda atau bapak tanya, jawabnya yang jujur ya Nak? Kalo emang bener belum makan, bilang ajah belum. Ya sayang?" Umar mengangguk mantap dan memelukku sambil berkata, "Maaf, bunda...." Meski mungkin sebenarnya Umar belum terlalu paham tentang hal ini....

Oh anakku.... Maafkan bunda dan bapak, ya? Lingkungan tempat tinggal kita memang kurang memadai untukmu... Tetapi itu akan menjadikanmu lebih mawas diri dan waspada penuh. Tidak semua orang yang baik pada kita itu benar dan jujur. Ada kalanya orang baik itu penjilat.

Bukannya bunda mau ghibah, tetapi keluarga **** memang penjilat nomer wahid. Ini kata para tetangga lain yang sudah puluhan tahun tinggal bareng mereka. Sementara bunda kan baru 7 tahun di Depok... Mereka baik jika kita memberi mereka uang. Minimal makanan. Jika tidak, korbannya ya kamu, Nak...

Mohon doakan bunda dan bapak agar selalu dapat memberikan yang terbaik untukmu ya...

Peluk cium selalu,
Bunda....

Yah, serem amat! ^_^

Kalau bunda pulang kerja, di balik pintu Umar pasti sudah siap untuk cium tangan bunda dan pasang aksi mulut monyong...minta dicium! Hehehehe.... Kok bisa? Iya, gak mau kalah karena bapak juga kan cium bunda.. (hah, ketauan deh! *kabur*)

Setelah itu, langsung bongkar tas bunda cari2 botol air mineral bunda untuk dia mainkan dan minum. Udah pinter minum sendiri.. Tapi kalo udah heboh, tumpah juga.... Gak mau makan malam sebelum bunda pulang. Duh, terima kasih ya sayang udah mau tunggu bunda.... ;-) Umar makan sendiri kalau masih hangat . Begitu mulai kenyang dan makanan di piring mulai dingin, rewel dah... "Cama bunda ajah.... Gak mau cama bapak... Cuapin ama bunda!" dengan gaya protesnya yang super ngotot.

Jika mau tidur, mulutnya monyong lagi dan, "Cini, bun! Cama Mbang....Amin!" Lho? Doanya belum udah amin duluan.. Hehehehe....

Nah yang serem tuh kalau lagi main di rumah tante Ely! Karena di sana ada si Broni gukguk. Setiap bapak mau shalat Jum'at, Umar dititipkan di rumah tante Ely. Umar selalu deket2 Broni dan elus2 anjing bulu pendek itu. Tapi aaarrgggghhhhh......... Awas kalo dicium! Gak boleh! "Gak kok, Pak! Mbang cuma cayang-cayang ajah. Gituh!" Jawab Umar membela diri kalau dinasehati bapaknya. Bapaknya curhat ke bunda, "Iye, sayang sih sayang... Tapi kan najis...." Bunda senyum ajah. "Gak papa, kok! Umar kan belum mumayyiz. Jadi gak bakalan paham kalo anjing tuh haram.... Justru bagus kok dia penyayang binatang.." ^_^

Miss u everytime, boy!

Kesayangan Semua Orang

Umar adalah bintang bagi bunda. Tapi ternyata Umar juga bintang bagi siapapun! Terutama dalam keluarga besar bunda maupun bapak, Umar selalu menjadi pusat perhatian.

Mulai dari yang minta menginap, minta jalan2, atau sekedar rebutan gendong. Aih, padahal Umar udah bisa lari! Mana betah digendong? Kecuali manjanya kumat, ya Nak? Hehehehe...

Umar adalah cucu termuda di keluarga besar bunda dan bapak (saat ini). Makanya jadi kesayangan. Tetapi Umar sudah punya keponakan 2 orang!!! Alias, bunda dan bapak sudah punya cucu 2 orang! Karena Aa Anjar dan teh Ote yang menjadi kakak sepupu Umar telah mempunyai Zahid dan Zahra. Beuh... Makanya sejak ada Zahid dan Zahra, Umar rada 'tersisih'... Hihihi... Gak ding, tetep bersinar kok!

Umar tetap menjadi kesayangan bunda dan bapak, juga teteh Inun. Betul kan?

Postingan Lama Beranda