Laporan 17an...

Yah,bunda telat nih beritanya.. Basi deh! Yah, muhun maap juga deh, maklum sibuk....

Gak terlalu banyak yang mesti diceritain. Tanggal 17 subuh Umar ke rumah nenek di Kampung Sawah. Ikutan (sok2 ikutan, sebenernya karena Umar bukan 'penduduk' sana, cuman 'penyusup'. Hehehehe) lomba lari. Jelas ajah rusuh. Lecet2, baret2, kotor semua, dan capek. Dapet makan ayam goreng tepung dari panitia... Hihihihi, padahal gak ambil kupon. Rejeki mah gak kemana ya Nak?

Trus, Umar bobo siang sama bi Yuyun, sementara bunda dan bapak ke Cinere dulu ada perlu. Setelah Umar mandi sore dan bunda shalat Ashar, kita pulang ke Depok. Di sana udah ditunggu tasyakuran di rumah ua Eeng. Padahal Umar gak ikutan lomba RT (karena pergi ke Jakarta), tapi tetep dapet hadiah yang paling Umar suka.... Mobil2an 1 set!!!! Alhamdulillah... ^_^

Tapi malamnya, ohix... Bunda gak bisa tidur karena mesti menenangkan Umar yang histeris... Kebiasaan buruk deh... Kalau siang hari mainnya heboh, tengah malam pasti kesakitan karena pegal2.... Haduuuuuhhhh......

Tapi gak papa ya sayang... Bunda sayang kamu... Selamat menikmati mainan barumu... ^_^

Kok Ada...?

"Kok ada matanya, bunda?" sambil menunjuk gambar seseorang / seekor hewan.
"Ya ada dong. Supaya bisa melihat sekitarnya."
Lain kali bertanya lagi,
"Kok ada mulutnya?"
"Ya ada dong. Supaya bisa mamam seperti Umar."
Sejam kemudian pasti tanya lagi,
"Kok ada kakinya?"
"Ya iya dong. Biar bisa lari seperti Umar."

Karena sudah sering bertanya yang itu-itu juga, akhirnya kadang Uamr menjawabnya sendiri. Contoh, "Kok ada matanya? Iya dong, bunda. Bial bica ngeliat kayak Umal." Hihihihihi, pintar!!!

Kadang, Umar ngasih pertanyaan yang susah, "Kok ada idungnya? Gak usah ada ajah, bunda. Nanti ada ingusnya, lho!" Giliran bunda yang bengong. Nih anak nguji apa nanya? subhanallah, anak ASI! Jadi pinter... Sekarang jadinya bunda yang mesti banyak belajar dari Umar, nih!!! ^_^

Setiap Umar melakukan kesalahan, sekecil apapun... Dia tidak pernah bersembunyi. Buru2 menemui bunda dan dengan tampangnya yang polos, takut2, dan gemeteran, Umar berucap pelan, "Bunda... Maaf..." dan kemudian diikuti dengan kesalahan yang dia buat.

Misalnya,

"Bunda, maaf... Baju Umal bacah. Tadi buang pempes ke tempat campah. Tlus, Umal kepeset, bacah, Bunda..." (Bunda, maaf. Baju Umar basah. Tadi buang pampers ke tempat sampah. Trus Umar kepeleset, basah, Bunda..."

Siapa yang tega memarahi anak yang sudah jujur??????? Dengan menahan kesal (yang sebenernya sih bisikan syetan) bunda berusaha tetap tersenyum dan membelai rambutnya, "Ya, sayang. Bunda maafkan. Terima kasih Umar sudah mau membantu bunda ya? Umar pintar bisa buang sampah sendiri. Lain kali hati2 ya?" Lalu bunda memeluk Umar erat. Terlihat wajah Mujahid Kecil kembali cerah dan ceria.

"Oke, bunda! Ma acih yaaaa..." dan dia pun kembali bermain setelah mengganti bajunya yang basah.

Atau, ketika Umar menumpahkan susunya di karpet, wuah.... Kembali, sambil menahan kesal, bunda mencoba mendekati Umar, "Sayang, kenapa susunya?"
U= "Tumpah bunda. Maap, gak cengaja."
B= "Umar kan tau karpetnya jadi kotor?"
U= "Iya bunda. Jadi bacah. Maap ya bunda?" Lalu memeluk bunda erat.

Oh Illahi Rabbi... Sungguh indah... Sungguh kejujuran anak sekecil ini... Membuat mata bunda berkaca dan hati bunda terharu...

Tetaplah pelihara kejujuran itu hingga ke JannahNya, Mujahid!

Mulai Pintar Cerita....

Dengan gayanya yang sok gede, Umar selalu ngoceh soal tabrakan mobil atau motor di televisi.. Atau protes kalau aksi2 hewan2 liar di film dokumenter terpotong iklan (gak ada iklan gak ada pelem dokumenter kali, sayanggggg....) Atau nyerocos setelah bengong melihat pijaran lava gunung berapi...

Sekarang, jika sedang bermain, juga ngoceh... "Bunda, mobilnya tabakan(tabrakan-bunda)!" Dan semacamnya...

Makin pinter protes. Kalau dipanggil ade pasti gak mau. "Abang, bunda.... Abang Umal...Ya?" Bunda tepok2 jidat deh! Juga gak mau dipanggil "Umay". Pasti ngegerendeng (menggerutu pelan): "Hu uh, Umay..Umay! Nama aku kan Umal, bukan Umay!" Bunda tinggal ngikik sendiri ajah...

Permisi...

Dengan memengang benda apapun yang mirip gitar (maklum bunda belum bisa beli gitar2an), Umar pasang aksi dan mulai menyanyi gak jelas sampe ngotot alias urat2 lehernya pada keliatan...

Jreng...jreng..jreng..... "..................." Isi nyanyian yang gak jelas. Lalu menghampiri orang2 yang 'mendengarkan' nyanyiannya, dan menadahkan tangan. Setelah kita juga pura2 kasih ongkos (uang receh, versi Umar), dia tersenyum dan berujar, "Ma acih" dan melanjutkan nyanyian gak jelasnya...

Kalau sudah capek, langsung deh nyamperin bunda dan bilang, "Haus, bun!" Hehehehehe....

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda